Langsung ke konten utama

Gaji Besar atau Kenyamanan?

Pasti jawabannya adalah kedua-duanya. Yaa bersyukur jika mendapatkan keduanya. Namun fakta di lapangan, pertanyaannya selalu diantara kedua hal tersebut? Atau lebih spesifiknya ialah: "lebih baik gaji gak terlalu besar tapi nyaman, atau gaji besar tapi penuh tekanan?". Ini permasalahan yang sangat lumrah dan masing-masing dari kita pasti memiliki jawaban dan pilihan beragam berdasarkan keinginan mereka, lebih tepatnya sih berdasarkan kebutuhan ya. Sebab kalo kita inginkan sih pasti yang nyaman dengan bergaji besar. Maruk banget ya 😆
Dalam pandangan saya, bergaji besar tidak melulu memberikan kebahagiaan. Kenapa? Some say kebahagiaan tidak bisa dibayar dengan uang. Is it true? Ya!! Bukannya munafik tapi memang iya lho. Yang jawab ga true, coba mau tau dong alesannya 😊

Guys, rezeki itu ga selalu dalam bentuk uang. Memiliki teman-teman yang baik, yang bisa diajak bekerjasama, tidak saling menjatuhkan, dan yang pasti yang saling membantu jika kita kesulitan. Dan yang baiknya lagi sih, temen yang sering nutupin kesalahan kita supaya ga sama-sama dimarahin 😁 (bukan malah main salah-salah 😤), itu juga termasuk rezeki kan. Rezeki ga hanya UANG. Anak rezeki juga kan? Mau dijual untuk diuangkan? Ya monggo, hak situ kok yang buat anak.
Jika orientasi kalian terhadap uang, it's not wrong, it's your choice.

Cuma share ya, diferensiasi karyawan yang nyaman dengan gaji cukup dengan karyawan yang terus mencari yang lebih besar.
Cerita #1.
Saya pernah bekerja diperusahaan distributor resmi dari produsen kendaraan bermotor terbesar keenam diindonesia yang tentu brand-nya sudah sangat familiar. Ukuran gaji saya yang hanya berstatus staff tergolong terlalu besar. Segini hanya staff lho, apalagi atasan saya. Tekanan disini pun tidak begitu berat. Namun ya, tingkat turn overnya cukup tinggi juga. Penyebabnya? Informasi koneksi ke tempat lain. Ketika kita sudah nyaman disini lalu mendengar angin surga bahwa perusahaan kompetitor gajinya lebih besar, iseng coba melamar, beruntung diterima, dan lalu ajukan resign. Why? Ga ada problem apa-apa kok resign? Jawabannya adalah rasa puas. Manusia tidak akan pernah merasa puas apalagi terhadap uang. Saya lihat, rekan saya diperusahaan ini silih berganti, paling sekitar satu dua tahun mereka mengabdi disitu. Dan dari cerita yang saya dengar tentang pengalaman mereka, perusahaan yang mereka loncati termasuk perusahaan yang cukup berani dalam memberikan gaji terhadap karyawannya. Namun, apa saja aset yang mereka miliki selama berpindah-pindah dari dan di perusahaan bergaji besar? Rasa bangga! Bagaimana dengan aset lainnya, Mobil? Setiap perkumpulan selalu bawa motor kok, palingan diberikan inventaris mobil dari perusahaan, tapi ya harus dikembalikan ketika sudah tidak bergabung lagi di perusahaan ya toh. Rumah? Mayoritas asli jakarta sih, jadi ya tanahnya dari warisan orangtua. Kalaupun ada yg perantau, ya tinggal di perumahan kontrak tahunan.

Cerita #2.
Saya pernah juga bekerja di perusahaan jepang manufaktur sektor dua yang tentu gajinya tak sebesar di perusahaan yang sebelumnya saya ceritakan. Diperusahaan ini, saya benar-benar merasakan atmosfer yang hangat. Nyaman? Definitely. Turn over disini sangat kecil sekali karena kebijakan disini kontrak 3-6 bulan langsung diangkat karyawan tetap. Saya lihat lagi, jabatan junior staff pun banyak yang sudah lebih dari 15 tahun bekerja disitu. Disaat acara kumpul keluarga (family gathering), sekitar 80% karyawan membawa mobil pribadi mereka. Dan juga, setiap mengunjungi karyawan yang lahiran ataupun sakit kerumahnya, bukan lagi rumah kontrakan bulanan atau tahunan, melainkan sudah milik sendiri. Sebagai perantau, tentu tidak mendapatkan warisan tanah dikota rantau kan, jadi benar-benar dimulai dari 0 sendiri bersama pasangan yang juga rata-rata perantau. Kalo dilihat, sangat mustahil dengan gaji segitu untuk memiliki aset seperti itu. Segitu saya bergaulnya dengan karyawan yang bekerja around 5-10 tahun. Bagaimana dengan yang 10-20 tahun? Punya aset masing-masing 3 kali hehe. Mengapa mereka bisa seperti itu? Well, tentu saja karena rasa bersyukur. Dan juga karena status mereka "kartap" menjadikannya percaya diri untuk mengajukan kredit terhadap benda-benda tsb. Dan leasing pun lebih percaya terhadap status kartap, bukan yang bergaji besar. Karena yang bergaji besar belum tentu long life kerja disitu, bukan. Mungkin saja ia akan "menganggur" dan leasing khawatir ia takkan bisa membayar iuran tepat waktu.

Itu hanya secuil pengalaman dari banyaknya hal yang saya alami. Saya hanya share, bukan berarti memaksakan opini saya terhadap pemikiran pembaca. Semoga menginspirasi untuk menentukan pilihan: money oriented or safe?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Positive Impact of Pandemic COVID-19: Pensiunan Ditarik Bekerja Kembali

Tidak sedikit saya membaca postingan serta melihat situasi yang kurang baik akibat dampak yang terjadi dari wabah dunia ini. Tentu saja ditempat saya bekerja juga terjadi hal itu. Namun, sesuai headline postingan ini, saya ingin bercerita mengenai dampak positif dari Pandemi COVID-19. Ada seorang karyawan yang sudah berumur dan tentunya sudah berstatus karyawan tetap, sebut saja beliau Melati. Melati bekerja sebagai operator packing di divisi Warehouse selama puluhan tahun. Sekitar tahun 2018, ia memilih untuk pensiun dini saat hal itu diajukan oleh perusahaan. Beliau harus melepas status karyawannya yang ia jalani berpuluh-puluh tahun dengan ganjaran pesangon dengan jumlah yang tidak sedikit. Beliau pun akhirnya berwirausaha dengan membuka warung sembako dan masih tetap berhubungan dengan kami yang kini menjadi customer terhadap sayur-sayur segar yang beliau miliki. Setiap pagi beliau mengantarkan pesenan kami lalu kami simpan di kulkas pantry untuk kemudian di sore hari kami bawa pul...

Bosan dengan Menu McD. Solusinya...

Siapa yang bosen dan bimbang tiap transit ke McD? Menu beratnya cuma AYAM sama BURGER, ditambah nasi ya. Yaaa kalo cuma ayam doang sih mending beli Sabana aja ya ga. Dua belas ribu udah dapet ayam plus nasi. Kenyang dah.  Kalo KFC bisa enjoy dengan spagheti dan cream soup ataupun soup originalnya yang nyegerin. Di richeese, meski menu ga jauh beda dengan McD tapi saus kejunya bener-bener manjain lidah.  Nah terus, ngapain ke McD? Gini, foodcourt instant (junk) food deket rumah gw yang ada mini playgroundnya cuma McD. Masa kesana cuma numpang maen perosotan doang tanpa beli apa-apa. Gengsi gila. But tonite ada yang baru. Menu Bulgogi Beef Rice. Isinya yaitu daging sapi disiram saus bulgogi ditumpuk diatas nasi dan ditemenin sama dua slices timun dan satu slice tomat. Isinya setengah dari cup nya. Jadi menurut gw, itu setengah porsinya gw. Kalo lu mau kenyang, beli dua porsi ya hehe. Is it worth to eat? Well, dibanding ama menu McD yang itu-itu aja, box meal ini lu...