☺Benar yaaaaa,, mentari itu panas. Namun ketika hujan, banyak juga ternyata yang mengharapkan kehadiran sang mentari ○
♣ Saat.. mereka melihat kemampuanku. Mereka mengakui ke "perfeksionis"anku. Namun ketika mereka mengetahui latarbelakang atas kemandirianku, sudah pasti kutebak, akulah selalu yang disalahkan oleh orang-orang lain disekitarku atas kehidupan yang ku jalani sendiri ini, tanpa mereka tahu bahwa aku punya alasan yang sangat kuat mengapa aku menjalani kehidupan ini sendiri. Mereka memojokkanku dengan cibiran serta makian yang rasanya ingin think nothing of it saja namun selalu saja berhasil menembus kerapuhan hatiku. Baik, mungkin aku pernah mengeluh. Namun, dari ribuan kali terpaan menghadang di kesendiriannya hidupku ini, frekuensiku menangis hanya sesekali, namun hampir ingin mati saat itu ▬
Jika aku diizinkan oleh Tuhan memilih, dengan siapa aku melanjutkan hidup dan terus bersamanya, sudah pasti kupilih dirinya yang sangat kucinta. Namun, ketika rasanya Tuhan menyuruhku untuk menjauh dari mereka lalu hidup dalam kesendirian ini, rasanya memang berat, namun aku yakin, Tuhan memiliki kisah yang jauuuuh lebih dahsyat indahnya dikemudian hari, dimana aku bisa hidup bahagia bersama beliau ♦
Namun sebenarnya, aku tak pernah sendiri. Tuhan selalu ada dimanapun kau membutuhkannnya. Siapa yang memberiku pekerjaan disaat aku menganggur? Tuhan. Siapa yang membantuku membayar uang semesteran kuliahku yang tak bisa ku handle seorang diri? Tuhan. Siapa yang memberiku tempat berteduh disaat tak ada yang namanya rumah bagi gadis berusia 18 tahun yang memulai hidupnya sendiri? Tuhan.
Dan, Ia pun mengirimkan malaikatnya bersamaku sekarang. Malaikat yang selalu menyemangatiku disaat ku terjatuh. Malaikat yang mungkin tak bisa menghentikanku berlari disaat aku ingin pergi dari dunia ini, namun ia berusaha untuk berlari bersamaku sambil menunjukkannya jalan yang baik.
"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar-Rahman [55] )

Komentar